Sabtu, 15 Agustus 2015

Hentikan air mata itu

Sudah hentikan air mata itu, karena itu tidak merubahku
Tidak sedikit pun membuat langkahku terhenti.
Tidak sedikit pun membuat aku kembali.
Maaf aku telah melukai dengan luka yang tak terlihat.
Dengan kenangan dan rasa cinta.
Bukan ini akhir yang aku mau.
Tapi ini adalah jalan yang harus kita tempuh.
Lalu biarkan takdir yang berkata.
Tentang apa yang terjadi. Tentang rasa sakit ini.
Dengan Cara yang mungkin tidak bisa kita mengerti.

Memang salahku yang menyapamu dengan senyum.
Menceritakan indah dongeng cinta.
Hingga kau bersandar erat padanya.
Memimpikan abadi tidur didalamnya.
Saat ini aku harus bangun.
Aku sudah tidak bisa mencintaimu.
Keabadian itu terlalu indah bagiku.
Biarkan aku fana tanpamu.
Jangan hentikan putaran ini dengan tangismu.

Memang salahku mengengam erat tanganmu.
Membuatmu yakin kita akan bisa selamanya.
Aku pun berharap begitu.
Aku pun mencintaimu.
Tapi tidak setiap harap harus nyata.
Kini harap itu pupus. mengertilah.
Hidup ini adalah banyak hal, tidak hanya cinta yang kita rasa.
Tolong mengertilah dan berhentilah menangis.

Tidak. Tidak ada yang salah dengan kamu.
Bahkan kamu adalah hal terbaik yang aku punya.
Tapi terkadang cinta harus menemui jalan tersulit.
Dia harus rumit. Sakit. Terisak.
Terkadang dia harus berhenti, berputar atau berakhir.
Mungkin itu yang terjadi dengan kita.
yang harus kita lakukan adalah larut.
Lalu biarkan semuanya.

Tidak. Tidak pernah ada yang lain di hatiku.
Tidak pernah terlintas. Tidak pernah bersinggah.
Cuma kamu satu.
Semuanya baik-baik saja.
Rasa cinta itu tetap ada.
Rasa rindu itu tetap menyayat.
Tapi aku sudah tidak bisa bersamamu.
Aku harus meninggalkanmu.

Kenapa ?
Karena hidup tidak habis untuk cinta.
Dan sulit bagiku untuk bersamamu.
Hidupku hanya terhenti dan abadi dalam cintamu.
Tidak bukan itu yang aku mau.
Aku sadar yang aku ingin adalah kebebasan.
Tidak terikat.

Iya kamu mengikatku.
Dengan cinta dan semua perasaaan itu.
Dengan cinta dan semua ikatan itu.

Iya semua yang kamu lakukan itu hal yang wajar.
Semua kekhawatiran itu.
Semua rasa cemburu itu.
Itu wajar bagi kita. Kita pasangan.
Tapi ada sisiku yang menolaknya.
Menolak untuk di kekang.

Percuma kamu berjanji.
Itu adalah hal yang mustahil.
Yang ada kamu akan tersiksa.
Setia menanti hal yang tidak kembali adalah kutukan
Dia mengutukmu dengan luka

Jangan..
Jangan kamu menantiku. Berpalinglah.
Cari bahagiamu. Bahagia yang lebih pantas untukmu.

Jangan… jangan kamu berjanji
Itu hanya melukai
Berhentilah setia dan mencintai aku.

Kamu yang akan sakit jika ini diteruskan.
Kamu yang akan sakit jika kamu berjanji.
Aku tidak ingin itu.
Sudah lepaskan aku dan hentikan tangismu.

Tangis dan luka saat ini akan sementara.
Tenanglah.
Lalu waktu akan berlalu.
Mereka akan mengering.
Dan kamu akan lupa.

Sudah jangan kamu janji lagi.
Kalau cinta mempertemukan lagi, biarlah.
Tapi saat ini jangan ada harapan.
Jangan ada janji
jangan menunggu.
Jangan menangis.

Mungkin kita akan jadi asing.
Kikuk dan canggung.
Tapi aku harap kita akan kembali ke tempat kita semula.
Ketempat kita mulai.

Tidak…
Wajar kamu akan membenciku. Bencilah.
Hanya bagiku akan selalu terselip doa
agar kamu hidup sehat, cantik, baik, dan bahagia.
Apapun jalan takdir yang tersisa.
Jalani.

Sudah lepaskan pelukmu dan hentikan tanggismu
hentikan air mata itu,
Hanya membuatku merasa bersalah
Hanya membuatku merasa berdosa.
Tersenyumlah meski kita tidak bersama.
Mengertilah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar