Kelak akan aku ceritakan betapa sesaknya bernafas saat jauh dari hadirmu,
Betapa waktu terasa begitu lambat berjalan, hingga aku tersesat dalam seribu lamunan,
Saat malam datang tubuhku mulai merindu, tengah malam aku terjaga tanpa sebab
Pelan sayup aku dibawah malam dalam kesendirian,
Yang dapat aku lakukan hanyalah memandang kearah potret kenangan kita
Terkadang terbias suara tawamu, manis senyummu
Terkadang pun mengema perkelahian kita, lalu haru menyesalanku bersuara karena gemercik tangismu.
Kelak akan aku cerita bagaimana tikaman rindu ini menusukku.
Berada di batas normal menanti sebuah harapan itu tak mudah
Terkadang aku merasa sakit meski tak berdarah
Terkadang aku ingin menangis hingga tak bersuara
Aku ingin memelukmu namun yang ada hanyalah aku
Aku ingin mengatakan betapa aku mencintaimu
Namun suaraku ditelan oleh deru
Ombak menertawakanku,
Mentari mencurahiku
Seribu surat rindu tak tertulis, terlantu dalam doaku untukmu
Kelak akan aku ceritakan bagaimana cintamu telah mengakar
Bagaimana aku menjaga baranya sendirian
Bagaimana aku bertahan
Banyak pria yang mendekatimu
Aku mengetahuinya
Namun aku bisa apa
Aku hanya bertahan dengan bisikan sayang yang kau ucapakan
Seminggu lalu
Ada pria yang membelikanmu hadiah
Aku tahu itu
Dan aku bisa apa
Aku hanya menahan dengan janji yang kau lemparkan untukku
Setahun lalu
Aku ditertawakan oleh semesta
Aku tak tahu bagaimana akan menjelaskan bagimana hancurnya aku,
Jika aku tak jadi untukmu
Aku tak tahu bagaimana aku akan membencimu saat itu
Kelak akan aku ceritakan semua
Saat kita telah ada dalam peraduan
Semoga
Selasa, 24 November 2015
Minggu, 15 November 2015
Hujan pertama di surabaya
Telah lama aku gersang akan sentuhmu
Tiap malam keringatku bercucuran merindumu
Namun seakan kau senang mempermainkanku
Kau menunjukan sedikit gelagat akan mencurahiku
Lalu akhirnya kau kembali menghilang entah kemana
Pernah sekali kau coba hadirkan gelegar di malam sunyiku
Aku berpikir janji bersua itu telah datang
Namun gelegarmu hanya untaian
Bagai langit yang nyata namun tak pernah teraih
Kapan kau akan turun dari singgahsana nyamanmu ?
Udara pengap bercampur dengan namamu
Haruskah aku jelaskan betapa sesaknya, aku bernafas diantaranya ?
Namun jika kau datang hanya membawa mendung harapan, aku memilih untuk berkata tidak
Hatiku ini sudah kering meronta, jangan kau bumbui dengan harapan yang sia-sia
Hidupku cukup sulit harus bertahan dengan menanggung rasa rinduku padamu
Yang aku pun belum tahu ujungnya bertemu atau hancur
Betapa lagi aku harus katakan, aku merindukanmu datang
Nafas ini berat akan rasa sayang yang kau tanam
Dalam pagi saat aku melihat matahari dan hangat cinta, aku merindukanmu
Dalam siang saat terengah-engah dari kejaran mimpi, aku merindukanmu
Dalam sore dibalik seduhan secangkir teh hangat, aku merindukanmu
Saat malam aku bertemu kasih dengan mimpi, aku merindukanmu
Datanglah, seperti hujan malam ini
Bertubi-tubilah lumuri aku
Aku larut dalam hujan malam ini
Bersama tangisku akan rindumu
Aku hanyut dalam hujan malam ini
Kubiarkan harapku mengalir
Deras tersapu bersih
Karena tak kunjung hadir bayangmu mendekapku
Aku sendirian dalam hujan malam ini
Menangis dan putus asa
Tiap malam keringatku bercucuran merindumu
Namun seakan kau senang mempermainkanku
Kau menunjukan sedikit gelagat akan mencurahiku
Lalu akhirnya kau kembali menghilang entah kemana
Pernah sekali kau coba hadirkan gelegar di malam sunyiku
Aku berpikir janji bersua itu telah datang
Namun gelegarmu hanya untaian
Bagai langit yang nyata namun tak pernah teraih
Kapan kau akan turun dari singgahsana nyamanmu ?
Udara pengap bercampur dengan namamu
Haruskah aku jelaskan betapa sesaknya, aku bernafas diantaranya ?
Namun jika kau datang hanya membawa mendung harapan, aku memilih untuk berkata tidak
Hatiku ini sudah kering meronta, jangan kau bumbui dengan harapan yang sia-sia
Hidupku cukup sulit harus bertahan dengan menanggung rasa rinduku padamu
Yang aku pun belum tahu ujungnya bertemu atau hancur
Betapa lagi aku harus katakan, aku merindukanmu datang
Nafas ini berat akan rasa sayang yang kau tanam
Dalam pagi saat aku melihat matahari dan hangat cinta, aku merindukanmu
Dalam siang saat terengah-engah dari kejaran mimpi, aku merindukanmu
Dalam sore dibalik seduhan secangkir teh hangat, aku merindukanmu
Saat malam aku bertemu kasih dengan mimpi, aku merindukanmu
Datanglah, seperti hujan malam ini
Bertubi-tubilah lumuri aku
Aku larut dalam hujan malam ini
Bersama tangisku akan rindumu
Aku hanyut dalam hujan malam ini
Kubiarkan harapku mengalir
Deras tersapu bersih
Karena tak kunjung hadir bayangmu mendekapku
Aku sendirian dalam hujan malam ini
Menangis dan putus asa
Langganan:
Postingan (Atom)